Ini adalah pengalaman saya ketika saya mengajar.. semoga dapat menjadi bahan perenungan untuk kita semua ^^

mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan di hati, karena ini adalah semata-mata pengalaman pribadi penulis.

 

Kasus 1:

Bbrp waktu lalu…

Murid A (les jam 12an) : Ci sy pengen ntn dream high..

Murid B (les jam 4an) : Ci sy pengen ntn Destiny..

Murid C (les jam 6an) : Ci kpn plg? Sy mo ntn go go girls..

Orang tua D : Ntn FTV pagi2, siang smpe sore ntn drama Korea, malem ntn sinetron..

Saya: *Stress*… nonton terus jg ga akan jadi lebih pinter *nada lembut* Udah belajar yg bener..

Smua menjawab: Ga nanya..*Jawaban yg aneh*

Kasus 2:

Saya: Permisi..

*Hening, tidak ada yang menjawab*

Saya: Permisi, mau beli pulsa..

Dari dalam: Oh iya..tunggu. *tapi lama keluarnya..*

Setelah membeli pulsa, si penjual masuk lagi. Sebelumnya saya tanya,

Saya: Loh, mbak, lagi ngapain? 🙂

Mbak: Hehehehe.. maap ga kedengeran.. Lagi nonton film serian.. nanggung…

Televisi di belahan dunia manapun hampir didominasi oleh film-film drama, sinetron dan telenovela atau sejenisnya. Saya bukannya mendorong mereka untuk tidak memproduksi film-film seperti itu, tentu saja orang-orang desain di belakang produksi film-film seperti itu juga tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Hal yang perlu diwaspadai adalah bagaimana kita dapat membagi waktu dan “STAY ON THE GROUND”. Film-film demikian tidak mendidik, saya tidak menyebutnya kurang mendidik, tapi betul-betul tidak mendidik.

Film-film drama romantis (tentu saja berseri dan ceritanya panjang) menjanjikan kehidupan penuh liku-liku indah, kaya raya, rumah mewah, dan kehidupan yang selalu berakhir dengan kebahagiaan *umumnya*, tetapi pernahkah Anda memperhatikan? Lihatlah isi dari kata-kata yang mereka ucapkan. Kosong, tidak bermakna dan tidak ada nilai pendidikannya sama sekali. Seorang yang memiliki sebuah rumah sebesar itu, dan menjadi seorang manager atau boss di sebuah perusahaan tapi memiliki otak yang kapasitasnya tidak beda jauh dengan orang-orang yang tidak berpendidikan. Pemikiran sempit, penuh dendam dan kisah cinta berlebihan.

Pernahkah Anda menonton film S*x and The C*ty, di mana C*rrie, sebagai tokoh utama, adalah seorang penulis? Seorang penulis tidak mungkin menghabiskan hampir seluruh waktunya di pusat perbelanjaan, butik pakaian mewah, dan berkumpul-kumpul bersama teman-temannya di kafe-kafe. Tahukah Anda, menulis membutuhkan waktu dan perhatian tinggi? Sesuatu yang tidak mungkin selesai hanya dengan mengetik selama seperempat jam. Butuh waktu hampir satu hari ketika saya menulis dan mengedit beberapa artikel untuk dimasukkan ke dalam sebuah majalah. Membutuhkan waktu delapan hingga sepuluh jam setiap hari untuk menulis kalimat, menerjemahkan dan mengeditnya, sehingga bacaan yang dibuat dapat dimengerti dan dipahami isinya. Film yang menyajikan sebuah drama yang tidak masuk akal. Mengapa tidak menyebutkan saja kalau C*rrie adalah seorang guru yang hanya mengajar selama dua jam di sebuah sekolah dasar?

Tidak hanya film-film drama yang terlalu berlebihan. Ada beberapa film semi-dokumenter yang tidak baik untuk ditonton. Contohnya adalah “16 and pr*gnant”, ini adalah sebuah acara dokumenter tentang wanita-wanita belia yang hamil di luar pernikahan. Mengapa tidak menghadirkan “16 and Championship”, “16 and World Peace”, “16 and Humanity”? Mengapa harus “16 and pr*gnant”? Meskipun inti pesan dari acara ini, adalah bagaimana mereka mempertahankan janin dan membesarkan anak-anaknya. Namun, sadarkah dengan judul tersebut, akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik dari gadis-gadis berumur 16 tahun lainnya yang menonton acara tersebut?

Film-film seperti “J*rsey Sh*re” yang menggambarkan perselisihan dan pertengkaran terus menerus. Kekerasan dan perkataan kotor yang terus dilontarkan tidak akan menjadikan penontonnya menjadi lebih dewasa dalam berpikir, bukan? Apa yang dapat diambil dari film penuh kata-kata kasar dan caci maki? Seorang anak yang terlalu banyak menonton film-film tentang kekerasan akan meniru tindakan dan kata-kata kasar tersebut. Akhirnya, menonton televisi seperti berada dalam lingkaran setan, di mana, film mengambil topik dari kehidupan nyata, lalu memberikan “bumbu” agar film menjadi lebih dramatis. Masyarakat yang menonton akan meniru dan menerapkannya dalam kesehariaan mereka. Terus berlanjut, film-film tersebut kemudian melihat kembali ke kehidupan nyata yang sebenarnya sudah “dibumbui tadi”, kemudian menambahkan “bumbu” lain. Alhasil, jadilah masyarakat yang bukannya menjadi lebih baik, tetapi jadi lebih buruk! Namun, tidak semua film-film tidak layak ditonton.

Banyak film-film yang menyajikan hal-hal yang luar biasa sehingga dapat memberikan pengetahuan kepada yang menonton, tetapi jika Anda perhatikan film-film demikian memiliki rating yang kurang baik, biasanya di bawah sepuluh persen, sedangkan film-film drama dan kekerasan memiliki rating yang cukup tinggi, mencapai atau lebih dari lima puluh persen.

Tontonlah film yang layak ditonton, yang memberikan pengetahuan, membuat kehidupan menjadi lebih baik, lebih harmonis dan bersahabat. Menonton film yang membuat kita mensyukuri dan menjaga alam, bertoleransi dengan orang lain, dan terlebih lagi, tidak mengganggu kehidupan bersosialisasi, bekerja, dan belajar di kehidupan nyata. Televisi adalah sebuah sarana dan media dunia maya yang dengan pandai harus dimanfaatkan. Televisi dapat membuat kita menjadi lebih baik tapi juga dapat menjerumuskan kita ke hal-hal buruk, jadi pandai-pandailah memilih.

 

Selamat menonton! ^^,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s